Reforestasi: Menuju Kedaulatan dan Kemandirian Air, Bukan Jalan Instan
SLEMAN (penasembada.com) - Di balik rimbunnya hutan yang masih lestari, tersimpan rahasia besar yang sering terlupakan yaitu air. Pepohonan bukan sekadar peneduh atau penghasil oksigen, namun juga sebagai penjaga utama siklus hidrologi. Dalam setiap akar yang menghunjam tanah, dalam tiap daun yang menangkap embun pagi, hutan bekerja dalam senyap menjaga pasokan air bersih. Sayangnya, kerusakan hutan yang masif telah merobek jaringan alami itu, memicu kekeringan, banjir, hingga krisis air yang semakin mengancam.
Penggundulan hutan untuk kepentingan industri, pertambangan, dan ekspansi lahan pertanian telah mengubah bentang alam dan memutus siklus air. Tanah kehilangan daya serap, mata air mengering, dan hujan yang turun tak lagi menjadi berkah, melainkan bencana. Di sinilah reforestasi bekerja untuk mengembalikan tutupan hijau yang menjadi kunci.
Guna memperkuat kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga alam dan mempererat kerjasama antar warga dalam merawat lingkungan hidup secara berkelanjutan, Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman yang didukung penuh oleh Kementerian Lingkungan Hidup bersama Kementerian Kehutanan, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup serta Forestry and Other Land Use - Norway Contribution menggelar kegiatan konservasi bertajuk reforestasi untuk keberlanjutan dan kemandirian air yang berlangsung di Embung Bedog Gondorejo, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Minggu (1/6/2025).
Kegiatan yang diikuti puluhan anggota kelompok Tani Lestari dan pemuda karang taruna Wonokerto Turi dikoordinir langsung oleh Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih. Diawali dengan penanaman 50 bibit pohon beringin (Ficus benjamina) yang disinyalir mampu menyerap racun atau polutan dan gas karbondioksida di udara sekaligus menghasilkan oksigen yang menjadikan udara lebih segar.
Menurut Wahyuningsih, reforestasi bukan sekadar menanam pohon, tetapi sebuah strategi pemulihan ekosistem. Hutan yang direstorasi secara terencana akan kembali menjalankan fungsi alaminya: menyimpan air hujan, menyaringnya ke dalam tanah, lalu melepasnya perlahan sebagai mata air dan aliran sungai.
“Dalam hal ini, pohon menjadi sumur hidup yang menopang kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Di sini kedaulatan air dimulai dari akar yang dalam dan daun yang rimbun,” tandasnya.
Namun, reforestasi tak bisa berjalan sendiri. Melainkan butuh kebijakan yang mendukung, pendanaan yang memadai, dan kesadaran kolektif lintas sektor. Pemerintah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, hingga masyarakat adat perlu duduk bersama merumuskan langkah jangka panjang. Termasuk, pendidikan lingkungan harus masuk ke sekolah-sekolah, agar generasi muda memahami bahwa menjaga pohon adalah menjaga air, dan menjaga air adalah menjaga hidup.
Selain itu, kemandirian air sejatinya hanya bisa dicapai jika masyarakat mampu mengelola dan melindungi sumber airnya secara mandiri dan berkelanjutan. Reforestasi memberikan peluang itu. Ketika daerah tangkapan air dihijaukan kembali, warga tidak lagi bergantung pada distribusi air dari luar daerah. Desa-desa bisa mengembangkan sistem pemanenan air hujan, irigasi mikro, hingga sumur resapan berbasis hutan rakyat. Ketahanan air menjadi lebih kokoh karena dibangun dari bawah, dari komunitas sendiri.
Kedaulatan air tidak bisa dibeli, dan kemandirian air tidak bisa diimpor. Keduanya harus dibangun dengan kerja keras dan visi jauh ke depan. Reforestasi menjadi salah satu jalan strategis untuk mencapainya. Reforestasi bukan solusi instan, tetapi investasi jangka panjang yang hasilnya bisa dinikmati lintas generasi. Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru akan memanen air bersih 10 atau 20 tahun ke depan. Namun tanpa menanamnya sekarang, masa depan air akan semakin kelam.
Penulis : Adnan Nurtjahjo - KIM Pararta Guna Gamping
Posting Komentar