Go Green Taruparwa Karya Sam Sianata, Pusaka Budaya Bangsa

Daftar Isi
Lukisan  Go Green Taruparwa, Karya Maestro Seni Indonesia Sam Sianata.

SLEMAN - Maestro seni Indonesia, Meneer Sam Sianata dikenal sebagai pencetus "Go Green Taruparwa", yakni sebuah karya perpaduan antara visual, filosofi, seni kreatif dan suara moral bagi zaman modern.

Karya Go Green Taruparwa bukan sekadar lukisan, namun di dalamnya tersirat makna simbol peradaban yang membawa pesan universal tentang pelestarian alam,  persaudaraan umat manusia, dan memupuk harmoni kehidupan.

Salah satu aktualisasinya dengan dibangun Monumen Hayati, terletak di Banyumili Resto di Dusun  Kwarasan, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Terdiri dari tujuh batang pohon yang ditanam Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X beserta 6 tokoh agama.

"Saya berusaha menggabungkan menanam pohon dan menanam rasa persaudaraan umat manusia, diharapkan terus tumbuh dan berdampak bagi lingkungan,"sebut Sam Sianata di Sleman, Rabu (13/5/2026).

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X beserta 6 tokoh agama melakukan penanaman tujuh pohon di Monumen Hayati di Resto Banyumili  di Dusun  Kwarasan, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, DIY)

Dijelaskan, sedangkan monumen seni, disatukan dalam bentuk lukisan, lagu, dan maskot Go Green Taruparwa. Karya ini memiliki ruh kebudayaan karena berbicara melampaui nilai estetika.

"Karya ini menyentuh kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga bumi dan merawat persaudaraan (unity) sebagai warisan bersama umat manusia,"tuturnya.

Dalam konteks ini “Go Green Taruparwa” hadir sebagai semesta seni (multi artform masterpiece) yang hidup, yakni  perpaduan antara visual, filosofi, seni kreatif dan suara moral bagi zaman modern.

Sebagai pusaka budaya bangsa, karya ini dapat dimaknai sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan hidup, representasi semangat persatuan dan kemanusiaan universal. Merupakan jejak pemikiran kreatif anak bangsa yang lahir dari jiwa dan peradaban Nusantara. Hadir sebagai warisan artistik yang memiliki nilai spiritual, sosial, dan historis.

Di tengah dunia yang menghadapi krisis lingkungan, perpecahan sosial, dan peperangan, Go Green Taruparwa membawa pesan bahwa seni tidak hanya untuk dipandang, tetapi juga untuk menggerakkan kesadaran dunia.

"Karena itu, karya semacam ini dapat diposisikan sebagai aset budaya bernilai tinggi, sebuah pusaka yang bukan hanya milik seorang seniman, melainkan dapat menjadi kebanggaan bangsa untuk terus diperkenalkan, didokumentasikan,dan diwariskan kepada generasi mendatang,"sambungnya. (Red)


.