Mengikuti PKN X dan Susbanpim IX di Makassar, Wahyudi Kurniawan Teguhkan Semangat Pengabdian Masyarakat
![]() |
| Wahyudi Kurniawan di sela mengikuti PKN X dan Susbanpim IX di Makassar pada 23–28 Juni 2026. |
MAKASAR (Penasembada.com) - Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) X dan Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) IX menjadi momentum penting dalam pembentukan karakter dan kepemimpinan kader Gerakan Pemuda Ansor dan Banser dari berbagai daerah di Indonesia.
PKN X dan Susbanpim IX yang berlangsung di Makassar pada 23–28 Juni 2026, bukan sekadar pendidikan kader, melainkan ruang pembentukan jiwa dan karakter, tempat seorang kader belajar menundukkan dirinya sendiri sebelum kelak memimpin dan melayani orang lain. Di dalamnya ditempa kesabaran, kedisiplinan, loyalitas, keikhlasan, serta semangat pengabdian yang tinggi.
Bangun sebelum fajar, berbaris dalam satu komando, berzikir, mengikuti materi hingga malam hari, hingga menjalani berbagai dinamika lapangan menjadi bagian dari proses panjang pembentukan seorang kader yang tangguh dan berkarakter.
Salah satu peserta, Wahyudi Kurniawan mengungkapkan, bahwa mengikuti proses kaderisasi bukanlah tentang kebanggaan mengenakan seragam ataupun mencari pengakuan, melainkan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih siap hadir untuk masyarakat.
"Menjadi kader bukan tentang apa yang bisa kita terima, tetapi tentang apa yang bisa kita berikan kepada sesama. Pengabdian adalah panggilan yang harus dijalankan dengan tulus dan ikhlas," ungkap Wahyudi saat ditemui, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, masyarakat tidak selalu membutuhkan sosok yang banyak berbicara, tetapi membutuhkan orang yang bersedia hadir, mendengar, dan membantu ketika dibutuhkan.
"Saya ingin dikenal bukan karena posisi ataupun atribut yang saya kenakan, tetapi karena manfaat yang bisa saya berikan. Jika ada masyarakat yang merasa terbantu, merasa didengar, dan merasa tidak berjalan sendiri menghadapi persoalan mereka, maka itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya," tuturnya.
Ia meyakini bahwa pengabdian sejati tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari perjuangan dan pengorbanan. Sebagaimana besi yang ditempa oleh panasnya api untuk menjadi baja, seorang kader juga harus melewati proses panjang agar menjadi pribadi yang kuat, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama.
"Kaderisasi bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari pengabdian panjang kepada agama, masyarakat, bangsa, dan negara," bebernya.
Sejalan dengan pesan Gus Dur, semangat yang terus dipegang adalah bahwa Ansor tidak mencari kekuasaan, melainkan mencari pengabdian.
"Selama masih diberi kesempatan, saya ingin terus belajar, terus berbuat, dan terus hadir di tengah masyarakat. Sebab sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,"tuturnya. (Eko)
