Cara Warga Kaliurang Timur Kelola Sampah Organik Rumah Tangga untuk Pakan Ayam Petelur

Daftar Isi
Cara warga Kaliurang Timur kelola sampah organik rumah tangga untuk pakan ayam petelur.

SLEMAN (Penasembada.com) -  Penutupan TPA Piyungan yang sempat memicu krisis sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) justru memantik inovasi warga Padukuhan Kaliurang Timur, Hargobinangun, Pakem, Sleman. Berawal dari tumpukan sampah di kawasan wisata, warga setempat kini sukses mengelola sampah secara mandiri lewat budidaya maggot yang terintegrasi dengan peternakan ayam petelur.

Pembahasan itu mengemuka dalam bincang Jejak Lingkungan di Taman Cengkrama Kaliurang, Padukuhan Kaliurang Timur, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman Selasa (25/8/2026). Agenda bincang-bincang itu menghadirkan narasumber dari Dukuh Kaliurang Timur, Panewu Pakem, dan Wakil Ketua DPRD Sleman Ani  Martanti. 

Dukuh Kaliurang Timur, Anggara Daniawan, mengungkapkan bahwa persoalan sampah kala itu tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga memicu gangguan dari satwa liar. Sebab, tumpukan sampah yang tak terangkut kerap diacak-acak oleh kawanan monyet dari hutan Merapi. Mengingat Kaliurang merupakan kawasan wisata, tumpukan sampah juga menjadi masalah serius karena menimbulkan bau tak sedap. 

Berawal dari keprihatinan itu, warga setempat pun mendapatkan pendampingan untuk mengelola sampah mandiri. Melalui pendekatan pengolahan sampah organik berbasis rumah tangga, warga diajak memilah sampah sejak dari dapur.

"Jadi ini sudah memasuki tahun kedua (pengelolaan sampah mandiri). Kami berawal dari satu masalah berupa (TPA) Piyungan ditutup. Karena kami di daerah wisata, sampah yang menumpuk memancing monyet datang dan mengacak-acak sampah sampai ke sungai. Setelah didampingi, kami mulai memilah sampah. Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot, lalu maggotnya dijadikan pakan ternak lele dan ayam Elba, sedangkan sisa kasgotnya (bekas maggot) dijadikan pupuk tanaman," jelas Angga. 

Dia menuturkan, awalnya pengolahan sampah rumah tangga hanya berfokus pada pakan maggot. Namun, karena nilai ekonomis maggot segar terbilang cukup rendah hanya sekitar Rp10 ribu per kilogram. Warga pun sempat kehilangan motivasi karena tidak sebanding dengan biaya operasional pengumpulan sampah.

Untuk menyiasati hal tersebut, kelompok warga mulai memadukan budidaya maggot dengan peternakan ayam petelur jenis Elba. Skema integrasi itu memanfaatkan sampah organik rumah tangga sebagai pakan maggot, yang kemudian dijadikan pakan utama bagi ayam petelur. 

Langkah tersebut pun berhasil menekan biaya operasional peternakan hingga titik nol. Pakan ayam tidak lagi dibeli secara komersial, melainkan murni memanfaatkan sampah organik rumah tangga dan maggot. 

"Ternak ayam Elba ini murni nol pengeluaran untuk pakan. Sampah rumah tangga yang terurai diberikan ke maggot, maggotnya dimakan ayam, lalu telurnya kami jual. Sampah yang tidak terurai maggot diolah menjadi kompos," papar dia.

Cara tersebut juga efektif menyelesaikan masalah sampah organik rumah tangga di Padukuhan Kaliurang Timur. Sebab, dalam sehari ada sekitar 30-40 kg volume sampah basah yang sudah terselesaikan di tingkat bawah. 

Kini, padukuhan yang dihuni sekitar 381 Kepala Keluarga (KK) tersebut telah mengelola 61 ekor ayam petelur yang didapat dari bantuan Kalurahan serta anggota Dewan. Dari jumlah tersebut, kelompok warga mampu mengantongi pemasukan kas sekitar Rp500 ribu per bulan. 

Skema pengolahan sampah itu tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan dan pendapatan kas warga. Kelompok masyarakat setempat juga bekerja sama dengan Posyandu dan PKK Kalurahan untuk mengalokasikan satu kandang ayam khusus penanganan stunting.  

Kandang tersebut menghasilkan rata-rata lima butir telur per hari dengan kisaran harga  Rp2.500 per butir. Seluruh hasil telur di kandang itu dibagikan secara gratis kepada anak-anak yang mengalami stunting. 

Saat ini program hibah peternakan ayam Elba mulai dikembangkan ke tiga RW di Kaliurang Timur. Angga berharap model pengelolaan sampah berbasis rumah tangga itu dapat diaplikasikan lebih luas.

"Sekarang kami perbesar sampahnya agar masyarakat bisa mengelola sampah dengan hibah ayam Elba ke tiga RW. Sehingga, masing-masing RW bisa mengelola sampahnya lewat kelompok-kelompok kecil. Jika sampah organik selesai di tingkat rumah tangga, pemerintah nantinya hanya perlu memproses residu seperti sampah plastik," tuturnya. 

Plt Panewu Pakem, Y. Purnama Kristiawan, mengapresiasi inovasi berbasis akar rumput itu. Purnama menegaskan bahwa peran pemerintah adalah memfasilitasi dan mendukung program yang diinisiasi langsung oleh warga di tingkat padukuhan.

"Pemerintah sifatnya mendampingi dan mendukung inovasi yang lahir langsung dari gagasan warga. Mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah memang membutuhkan waktu dan proses edukasi yang tidak instan. Namun, ketika masyarakat melihat ada potensi ekonomi dan kebersihan lingkungan yang terjaga, gotong royong itu terbangun secara alami," ungkapnya.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Ani Martanti. Ia siap selalu mengawal aspirasi masyarakat Kaliurang Timur melalui penyaluran bantuan sarana prasarana peternakan, pelatihan, hingga pendampingan teknis dari dinas terkait.

Menurut Ani, inovasi yang dihadirkan warga Kaliurang Timur itu, kini menjadi alternatif mata pencaharian yang fleksibel bagi masyarakat di kawasan wisata.

"Di kawasan wisata, roda ekonomi tidak selalu di atas. Ketika penginapan sepi, masyarakat harus punya opsi pendapatan alternatif tanpa harus pergi merantau. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT), pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak ini terbukti nyata. Ke depan, kami mendorong agar Kaliurang Timur bisa menjadi sentra peternakan ayam Elba dan model pengolahan sampah mandiri ini dapat direplikasi oleh kalurahan lain di Sleman," tegas Ani. (Red)