Desa Wisata di Sleman Didorong Jadi Benteng Pelestarian Alam
SLEMAN (Penasembada.com) - Lebih dari sekadar magnet ekonomi baru, desa wisata di Kabupaten Sleman kini resmi didorong menjadi garda terdepan pelestarian lingkungan hidup dan penataan ruang wilayah agar tak tergerus zaman.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Ani Martanti, saat berbincang di Desa Wisata Pentingsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY, pada Jumat (14/8/2026).
Ani menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, dan kelestarian ekosistem, agar dampak positif dapat terus dirasakan masyarakat hingga generasi mendatang.
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersama legislatif telah memiliki payung hukum untuk mengatur tata ruang dan melindungi kawasan hijau melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2020 tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Ani menjelaskan, regulasi tersebut telah membagi wilayah Sleman ke dalam beberapa zona, mulai zona pertanian, pemukiman, hingga industri. Dikatakan, dengan adanya tata ruang yang terstruktur, sumber daya air, kualitas udara, serta keberlangsungan makhluk hidup di sekitarnya dapat tetap terjaga secara seimbang.
"Investor atau pemilik modal tidak bisa seenaknya membeli tanah lalu mendirikan bangunan bertingkat tanpa aturan. Di kawasan seperti Cangkringan atau Pentingsari ini sudah ada batasannya, berapa lantai dan seberapa tinggi gedung boleh dibangun. Semua diatur ketat untuk menjaga ekosistem dan sumber mata air, demi anak cucu kita kelak," ucap Ani.
Menurutnya, tujuan utama adanya desa wisata adalah untuk melestarikan atau menjaga lingkungan. Apabila terjadi pertumbuhan ekonomi masyarakat di belakangnya, maka dinilai sebagai dampak positif atau bonus yang mengikuti kesuksesan pelestarian tersebut.
"Fokus utama desa wisata itu sebenarnya melestarikan alam. Jika konsisten maka bonusnya bisa meningkatan perekonomian masyarakat sekitar. Karena, rata-rata wisatawan datang mencari suasana alami, ketenangan, dan ekosistem yang terawat. Jadi saya ingin desa wisata-desa wisata di Kabupaten Sleman bisa menjaga lingkungannya," ujarnya.
Ani tak menampik menjaga keasrian dan lingkungan alam bukan hal mudah, bahkan terkadang menjadi tantangan berat bagi para pengelola desa wisata. Maka dari itu perlu ada peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) agar pengembangan desa wisata dan upaya menjaga kelestarian lingkungan tetap bisa berjalan beriringan.
Lebih lanjut, Ani menyebut, DPRD Kabupaten Sleman terus membuka ruang aspirasi guna memacu geliat desa wisata terus tumbuh dan memfasilitasi kebutuhan warga. Di antaranya mulai dari pelatihan kemampuan dan kapasitas SDM hingga bantuan fasilitas pendukung. Dia juga mencontohkan Desa Wisata Pentingsari yang dinilai sukses membangun kolaborasi nyata antara masyarakat dan pemerintah melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang aktif serta mandiri.
"Sebenarnya masyarakat tidak perlu jauh-jauh mencari sumber penghasilan. Dari desa tempat kita tinggal saja bisa menghasilkan pendapatan luar biasa, syaratnya dengan mengolah dan melestarikan potensi yang ada. Memang terkesan gampang tetapi penerapannya butuh komitmen. Kami di DPRD siap terus membackup kebutuhan peningkatan SDM dan fasilitas warga," tutur Ani.
Keberlanjutan sebuah desa wisata tidak hanya bergantung pada tingginya angka kunjungan wisatawan dan dampak ekonomi yang dirasakan warga. Keselarasan dalam merawat alam, menjaga budaya lokal, serta kepatuhan terhadap regulasi tata ruang juga menjadi modal utama agar ekosistem pariwisata berbasis masyarakat dapat bertahan dalam jangka panjang.
Komitmen itulah yang terus dipegang oleh Desa Wisata Pentingsari di Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY. Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari, Ciptaningtyas, menjelaskan bahwa sejak berdiri pada 2008 hingga kini, Desa Wisata Pentingsari terus eksis karena konsisten menjaga kelestarian lingkungan dan memberikan pengalaman autentik bagi para pelancong.
"Prinsip utama kami adalah bagaimana memberdayakan seluruh potensi warga lalu dikemas menjadi paket-paket wisata, sehingga para wisatawan bisa belajar banyak di Pentingsari. Tentu manfaat ekonomi harus disertai dengan keseimbangan sumber daya alam. Karena kami ingin wisatawan merasa nyaman menikmati vegetasi yang asri, suara burung, hingga suasana malam yang alami di Pentingsari," papar Ning.
Dia menuturkan, setiap desa pada dasarnya memiliki potensi untuk berkembang menjadi desa wisata. Asalkan mampu menemukan dan mengangkat unique selling point atau keunikan lokal dan ciri khas masing-masing desa.
Selain mengangkat potensi khas, Ning menyebut, kesiapan masyarakat untuk menerima kunjungan wisatawan juga menjadi kunci agar desa wisata bergeliat.
"Kalau sudah siap, bisa mengajukan diri sebagai desa wisata. Tapi desa wisata tentu harus terus berinovasi dan menjaga keseimbangan alam, seni, budaya, dan kearifan lokal. Agar wisatawan selalu datang dan datang lagi ke desa wisatanya," kata dia.
Sementara itu, Panewu Cangkringan, Tamzis Sarwana, menegaskan bahwa pemerintah kapanewon terus mendukung penuh atau Tut Wuri Handayani inisiatif dan kemandirian masyarakat yang sudah terbangun sejak lama dalam mengelola potensi desanya. Menurutnya, kesederhanaan tradisi justru menjadi nilai lebih dalam mempromosikan aktivitas desa wisata.
"Budaya betul-betul dilestarikan. Bahkan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti membatik, bermain gamelan, petik kopi, hingga menanam padi bisa menjadi atraksi wisata. Konsep homestay di sini pun tidak perlu mewah, yang penting bersih dan nyaman," ungkap Tamzis.
Kendati demikian, ia selalu mengingatkan bahwa arah pembangunan fisik dan upaya pelestarian lingkungan jangan saling bergesekan, melainkan bisa saling mendukung satu sama lain. (Red)
