Jaga Kelestarian Lereng Merapi, Sleman Dorong Ekowisata Berbasis Komunitas
![]() |
Suasana bincang Jejak Lingkungan di Tankaman Natural Park, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, pada Selasa (25/8/2026). |
SLEMAN (Penasembada.com) - Pengembangan kawasan lereng Gunung Merapi kini tak sekadar fokus pada daya tarik wisata, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Guna mewujudkan hal tersebut, Pemkab dan DPRD Kabupaten Sleman berkolaborasi mendorong ekosistem ekowisata berbasis masyarakat untuk memicu pertumbuhan ekonomi warga setempat.
Seperti langkah Pemerintah Kalurahan Hargobinangun yang sukses mengintegrasikan potensi kebun kopi lokal dengan penyerapan tenaga kerja pemuda desa melalui destinasi wisata berkonsep warung kopi alas bernama Tankaman Natural Park.
Hal itu terungkap dalam bincang Jejak Lingkungan di Tankaman Natural Park, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, pada Selasa (25/8/2026).
Kegiatan itu menghadirkan narasumber dari Lurah Hargobinangun, Plt Panewu Pakem, hingga Wakil Ketua DPRD Sleman Ani Martanti.
Lurah Hargobinangun, Amin Sarjito, mengatakan bahwa kawasan Tankaman Natural Park berdiri pertama kali pada 2021 lalu. Gagasan terkait destinasi itu muncul dari keinginan untuk memaksimalkan potensi perkebunan kopi warga yang sebelumnya belum tergarap secara optimal. Di sisi lain, ada keprihatinan atas berkurangnya vegetasi penghijauan serta minimnya kegiatan produktif bagi pemuda desa pascaerupsi Merapi 2010.
Oleh karena itu, dirintislah destinasi ekowisata yang mengsinergikan potensi tenaga kerja pemuda setempat agar tidak perlu merantau ke luar daerah. Konsep utama destibasinya pun mengintegrasikan seluruh rantai bisnis kopi dari tingkat budidaya pertanian di hulu hingga penyajian kuliner ekowisata di hilir.
"Setelah erupsi 2010, anak-anak muda tidak ada kegiatan. Kemudian, kebun kopi yang sudah ada kami maksimalkan dengan mengajak pemuda mengelolanya dari hulu sampai hilir. Gayung bersambut, potensi budidaya dan pemuda kami gabungkan untuk pengelolaan kopi, sehingga terciptalah Tankaman Natural Park ini," ungkap Amin, Selasa (25/8/2026).
Beruntung, proyek pengembangan kawasan berbasis masyarakat itu juga mendapat apresiasi dan dukungan awal dari Gubernur DIY melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) revitalisasi lereng Merapi.
Kini, obyek wisata itu terus berkembang hingga bisa memberdayakan 29 pemuda desa sebagai pengelola warung kopi alas. Pada akhir pekan, angka kunjungan warung kopi alas Tankaman Natural Park bisa mencapai 300 orang. Destinasi itu juga telah rutin menyumbang pendapatan asli desa (PAD) Kalurahan sebesar 10 persen dari omzet kotor per bulan, atau sekitar Rp4-5 juta.
"Harapan kami, mereka tidak perlu pergi jauh-jauh. Kami kelola wilayah sendiri sehingga memberikan dampak positif bagi pemuda untuk mengembangkan desanya," imbuhnya.
Destinasi wisata yang berdiri di atas Tanah Kas Desa (TKD) itu mengelola area utama sekitar 1 hektar dari total kawasan keseluruhan seluas 9 hektar. Selain itu, warga sekitar juga mengolah lahan perkebunan kopi seluas 4 hektar yang mampu menghasilkan 3 hingga 4 ton kopi jenis Robusta dalam sekali panen.
Menurut Amin, keberadaan destinasi ekowisata tersebut telah memberikan nilai tambah terhadap biji kopi robusta hasil panen warga. Jika dahulu, hasil panen kopi hanya dijual mentah (green bean) ke tengkulak. Kini, sebagian besar diolah mandiri menjadi produk siap minum.
"Harapan kami ke depan, peran petani akan terus dimaksimalkan supaya nilai dari kopi (robusta lereng Merapi) lebih meningkat lagi. Dengan begitu, sektor pertanian dan ekowisata betul-betul ikut berperan menyejahterakan warga Hargobinangun," ucapnya.
Wakil Ketua DPRD Sleman, Ani Martanti, mengapresiasi kemandirian ekonomi warga dalam mengelola potensi ekowisata di lereng Gunung Merapi. Meski demikian, dia menekankan pentingnya menjaga fungsi konservasi hutan serta memperkuat komoditas lokal agar memiliki nilai jual tinggi.
Apalagi di tengah tingginya resiko deforestasi, Ani menegaskan bahwa regulasi tata ruang zona hijau dan batas alih fungsi lahan harus dipatuhi secara ketat.
"Investor datang tentu kami senang, tapi syarat dan ketentuan berlaku ketat. Tanah di sini statusnya Sultan Ground (SG) atau Tanah Kas Desa (TKD), sehingga alih fungsi lahan dilarang keras. Di destinasi Tankaman ini, bangunan fisik hanya diperbolehkan untuk fasilitas dapur saja, tidak boleh ada hunian permanen," tegas Ani.
"Wilayah lereng Merapi merupakan kunci resapan air untuk daerah Kota Yogyakarta. Jika pohon-pohon ditebangi, dampaknya bahaya erosi dan krisis air bagi warga di bagian bawah. Selain itu, karena berada di alur rawan bencana Sungai Kuning, seluruh pekerja juga wajib dibekali SOP edukasi mitigasi bencana agar siap bergeser jika ada peringatan bahaya," tambahnya.
Lebih lanjut, Ani menyatakan dukungannya terhadap inisiatif pemuda dan pemerintah kalurahan yang dinilai berhasil menghidupkan perekonomian warga secara mandiri. Dia menceritakan, pendampingan awal bagi para pemuda di kawasan tersebut telah dimulai sejak lima tahun lalu. Dari usaha yang dirintis dengan penuh keterbatasan, kini puluhan anak muda lokal mampu memperoleh penghasilan yang stabil.
"Awalnya lima tahun lalu berat sekali karena jualan tidak langsung laku. Tapi pemuda di sini bertahan dengan inovasi luar biasa, didukung pemerintah dusun dan kalurahan. Dari yang dulu hanya 5 orang, sekarang sudah lebih dari 25 pemuda tergerak dengan pendapatan hampir mendekati UMR. Ini bukti ada harapan positif di desa mereka sendiri," ucapnya.
Dia pun mendorong perluasan area tanam kopi di sela-sela vegetasi hutan setempat untuk memaksimalkan potensi yang ada. Ani berharap, ke depan lahir brand olahan kopi khas lereng Merapi di kawasan tersebut.
"PR kita adalah menambah tanaman kopi di sela-sela pohon yang ada menggunakan bibit berukuran besar agar cepat panen. Kita ingin kawasan ini punya brand kopi sendiri dan tidak menjualnya dalam bentuk biji mentah (green bean), melainkan olahan siap saji untuk mencukupi pasar lokal dulu," kata dia.
Senada, Plt Panewu Pakem, Y. Purnama Kristiawan, juga mendorong agar identitas kopi Robusta khas Hargobinangun dan Pakem tetap dipertahankan sebagai kearifan lokal yang berkelanjutan.
"Kopi Robusta di sini adalah ciri khas Pakem yang jangan sampai lepas. Kami di kapanewon terus mendorong koordinasi dengan dinas terkait seperti Dinas Pertanian untuk bimbingan teknis, serta mensinergikan program Pokir DPRD maupun CSR investor agar kawasan ini terus berkembang tanpa merusak hutan," ujar dia. (Red)
