Restorasi Bekas Tambang Pasir di Lereng Merapi Lewat Tanam Bambu, Seperti ini Hasilnya

Daftar Isi
Suasana bincang-bincang terkait reklamasi lahan bekas tambang galian C di Suara Dewandaru, Ruas Bambu Nusa, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, pada Rabu (19/8/2026).

SLEMAN (Penasembada.com) -  Tak lagi menggantungkan hidup dari kerukan pasir dan batu, warga di kawasan lereng Gunung Merapi, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, kini gencar beralih ke ekonomi hijau. Penurunan drastis tambang ilegal di wilayah tersebut menjadi titik balik lahirnya berbagai destinasi wisata ramah lingkungan berbasis ekonomi sirkular.

Hal itu terungkap saat bincang-bincang dalam program Jejak Lingkungan di Suara Dewandaru, Ruas Bambu Nusa, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, pada Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Panewu Cangkringan Tamziz Sarwana, hingga Wakil Ketua DPRD Sleman Ani Martanti.  

Tamzis Sarwana dalam perbincangan tak menampik sejak dulu kawasan Cangkringan telah marak aktivitas galian C tak berizin. Sehingga banyak lahan bekas tambang pasir di lereng Gunung Merapi tersebut. 

Namun seiring berkurangnya material pasir,  jumlah warga yang bergerak di sektor pertambangan saat ini diperkirakan tidak lebih dari 5 persen.

Pihak Kapanewon pun terus mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan aktivitas penambangan pasir ilegal di lokasi yang bukan peruntukannya. Hingga kini, pihak kapanewon terus berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan setempat dan jajaran Satpol PP untuk memantau wilayah dari aktivitas galian pasir ilegal. 

"Kami selalu mengedukasi masyarakat apakah tidak ada pekerjaan lain selain menambang. Kalaupun mau menambang, kami arahkan harus sesuai aturan, yakni benar-benar rezeki (material) dari Merapi yang diambil. Jangan mengambil pasir yang di pekarangan," ucap Tamzis, Rabu (19/8/2026). 

"Sebab, wanti-wanti dari Kanjeng Sinuwun Sultan Hamengku Buwono X sangat tegas, jangan sampai menambang di tempat yang bukan peruntukannya. Aktivitas penambangan hanya diperbolehkan di Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti Kali Gendol dan Kali Kuning untuk fungsi normalisasi material, bukan mengambil di pekarangan warga," tambahnya. 

Tamzis menyebut kawasan lereng Gunung Merapi merupakan daerah resapan air yang sangat vital. Oleh karena itu, langkah pemulihan   lingkungan perlu dilakukan untuk mengembalikan fungsi alaminya. 

Salah satu upaya konkret yang bisa dilakukan yakni mengalihfungsikan lahan bekas galian tambang menjadi kawasan hijau dan jalur wisata olahraga. Contohnya seperti kawasan Ruas Bambu Nusa di Desa Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, yang dikembangkan oleh Widya Purwoko. 

Bekas galian tambang di kawasan tersebut dimanfaatkan sebagai lanskap pemandangan alam tanpa membutuhkan biaya mahal untuk pengurukan tanah. Sebagai gantinya, area di sekeliling galian ditanami kembali dengan berbagai jenis vegetasi, terutama bambu. 

"Kawasan tersebut juga mengenalkan konsep sedekah pohon, tempat masyarakat dapat membeli dan menanam pohon bertuliskan nama mereka untuk dirawat serta dibiarkan tumbuh selamanya di lereng Merapi. Itu kan luar biasa," katanya. 

Selain pemulihan lahan bekas tambang, Kapanewon Cangkringan juga menekankan pentingnya pengetatan aturan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) untuk menjaga fungsi lereng Merapi sebagai daerah resapan air utama. Batas maksimal KDB di kawasan tersebut idealnya tidak melebihi 30 persen. Bahkan di beberapa lokasi percontohan seperti Kampung Plosorejo hanya berkisar 12 persen, sehingga 88 persen sisa lahannya difungsikan sebagai area resapan.

Tamzis berharap pemulihan kawasan seperti Ruas Bambu Nusa dapat menjadi contoh konkret bagi warga Cangkringan untuk beralih ke sektor pariwisata.

"Kami mendorong masyarakat agar rezekinya tidak lagi dari menambang secara liar. Bagaimana sektor wisata ini dikembangkan sehingga setiap keluarga nantinya ada yang bekerja di bidang pariwisata, yang dampaknya bisa menarik wisatawan dari seluruh Indonesia hingga luar negeri tanpa merusak lingkungan," tuturnya. 

Owner Ruas Bambu Nusa, Widya Purwoko, mengungkapkan perjalanannya menyulap lahan bekas tambang galian C menjadi kawasan hijau. Dalam prosesnya, ia menerapkan prinsip utama memulihkan lanskap tanah tanpa merusak struktur alaminya secara drastis. Dia memilih tidak meratakan kontur tanah secara masif, melainkan memanfaatkannya sebagai lanskap unik yang dipadukan dengan vegetasi alami.

"Kontur tanah itu terbentuk selama ratusan tahun, jadi kalau diubah total justru bisa menghilangkan nilainya. Jadi, lubang-lubang bekas galian kami manfaatkan kembali dan berkolaborasi dengan tanaman. Di tanah miskin hara atau gersang yang tidak bisa ditanami sayur, kami gunakan bambu sebagai tanaman pionir," jelasnya.

Menurutnya, tanaman bambu memiliki peran penting dalam pembentukan lapisan tanah baru (topsoil). Guguran daun bambu yang membusuk secara cepat akan terurai menjadi nutrisi alami bagi tanah. Metode itu dikatakan  memungkinkan terciptanya lapisan tanah subur baru tanpa perlu mendatangkan tanah dari luar kawasan.

Widya menambahkan, penanaman vegetasi pohon bambu di kawasan lereng Merapi tidak hanya berfokus pada pemandangan hijau semata, tetapi juga berfungsi menjaga ketersediaan pasokan air tanah. Dia menilai, menanam pohon di kawasan resapan lereng Merapi merupakan bentuk kepedulian ekologis yang dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat luas.

"Di lereng Merapi, menanam pepohonan itu bagian dari ibadah, istilahnya 'sedekah air'. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat di sini, tetapi air yang tersimpan akan dipanen oleh warga yang ada di wilayah kota hingga Kabupaten Bantul," tutur Widya. 

Guna memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar, Ruas Bambu Nusa juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang terintegrasi dengan potensi masyarakat sekitar. Pihaknya merangkul para petani lokal dengan memanfaatkan hasil panen mereka, semisal kopi untuk diolah dan disajikan kepada pengunjung.

Upaya reklamasi lahan bekas tambang galian C di Kapanewon Cangkringan itu mendapatkan apresiasi dari Wakil Ketua DPRD Sleman, Ani Martanti. Dia menyebut, pemulihan area kritis bekas tambang sebenarnya merupakan inovasi yang mudah dilakukan, asalkan ada kemauan dan pemahaman dari masyarakat setempat.

Menurutnya, membiarkan lahan bekas galian tanpa penanganan akan membuat daerah resapan air tersebut menjadi gersang. Namun, upaya reklamasi tidak harus dilakukan dengan meratakan tanah secara masif yang memakan biaya besar.

"Kalau harus menutup dan meratakan lubang-lubang bekas galian, itu butuh biaya yang sangat banyak. Bekas tambang biarkan saja secara alami, tetapi di sekitarnya kita tanami pohon agar menjadi lumbung-lumbung air. Vegetasi seperti bambu sangat luar biasa untuk menyimpan pasokan air, menjaga ekosistem, hingga membuat lingkungan jadi adem," tuturnya.

Ia menambahkan, area bekas galian yang telah ditanami kembali justru memiliki nilai tambah, salah satunya bisa dimanfaatkan sebagai jalur wisata olahraga seperti sepeda trekking. Keberadaan destinasi wisata tersebut dinilai efektif membukakan lapangan pekerjaan baru dan menumbuhkan perekonomian warga lokal.

Ani mengimbau warga kawasan Cangkringan untuk menghentikan penebangan pohon dan mulai konsisten menanam. Ia mengingatkan pentingnya mengubah cara pandang dalam menjaga kelestarian alam demi masa depan.

"Kita harus berpikir ke depan, bukan ke belakang. Ingat bahwa alam ini bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu kita. Setidaknya, jika masyarakat tidak memiliki lahan seluas ini, tetap harus ada kesadaran untuk mau menanam pohon dan berhenti memotongnya agar anak cucu kita nanti masih bisa menikmati air yang bersih," ujarnya. 

Mengenai peluang mereplikasi konsep pemulihan lahan bekas tambang ke wilayah lain di Sleman, Ani menilai hal tersebut sangat memungkinkan. Kendati demikian, tantangan terbesarnya terletak pada kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan konsistensi pendampingan dari pemerintah.

"Banyak desa wisata yang beroperasi saat ada bantuan saja, setelah itu redup lagi karena masalah SDM. Di sinilah peran pemerintah untuk selalu mengawal dan memberikan pelatihan. Kami dorong kawasan ini jadi daerah wisata. Tetapi kuncinya satu, jangan sampai merusak lingkungan karena ini daerah resapan air," tandasnya. (Red)