Ubah Kohe Jadi Berkah, Langkah DP3 Sleman Wujudkan Pertanian Berkelanjutan di Bumi Sembada

Daftar Isi
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DP3 Sleman, Suryawati Purwaningtyas, dan Wakil Ketua Komisi B DPRD Sleman, Surana, saat berbincang terkait pengolahan kohe menjadi pupuk organik dalam acara Jejak Lingkungan di Sanggrahan, Wedomartani,  Ngemplak, Sleman, pada Sabtu (10/10/2026).

SLEMAN (Penasembada.com) - Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman terus menggencarkan edukasi pemanfaatan kotoran hewan (kohe) menjadi pupuk organik. Langkah tersebut menjadi bagian untuk mendukung sektor pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di wilayah Bumi Sembada. 

Pembahasan itu mengemuka dalam program Jejak Lingkungan bertema Pengolahan Kohe Ramah Lingkungan di Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (10/10/2026). 

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DP3 Kabupaten Sleman, Suryawati Purwaningtyas, menjelaskan,  kotoran hewan sapi, kambing, domba, hingga unggas menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas berternak. Namun, pengelolaan limbah kohe yang keliru kerap menimbulkan masalah baru bagi lingkungan sekitar.

"Selama ini masih ada peternak yang hanya menumpuk limbah begitu saja, bahkan dibiarkan dan dibakar. Padahal, membakar kotoran ternak justru memicu polusi udara, menimbulkan bau tidak sedap, membuat lingkungan kotor, serta berisiko membuat ternak rentan sakit," ucap saat menjadi narasumber dalam forum diskusi.

Diungkapkan, DP3 Sleman memberikan pendampingan kepada para peternak agar mengolah limbah kohe menjadi pupuk organik. Dengan pengolahan limbah kohe yang tepat, ia menyebut kandang bisa menjadi lebih bersih, kesehatan ternak terjaga, dan peternak dapat memperoleh penghasilan tambahan dari produk sampingan yang dihasilkan. 

Di sisi lain, penggunaan pupuk organik juga dinilai mampu mengembalikan kesuburan tanah pertanian di Kabupaten Sleman. Sebab, penggunaan pupuk organik sangat efektif untuk mengembalikan nutrisi tanah yang mulai berkurang akibat penggunaan bahan kimia jangka panjang.

Menurutnya, potensi pemanfaatan limbah kohe menjadi pupuk organik di Kabupaten Sleman sangat besar, mengingat saat ini terdapat sekitar 600 kelompok ternak yang tersebar di seluruh wilayah Bumi Sembada. Meski kini baru sebagian kelompok ternak yang mendapatkan fasilitas bantuan sarana alat pengolah kohe, namun pihaknya terus mendorong kelompok lain bisa mengolah limbah ternak secara mandiri. 

"Untuk program bantuan diberikan secara terstruktur, terutama bagi kelompok yang telah memiliki pengalaman dan embrio pengolahan di lapangan. Paket bantuan dari kami meliputi pelatihan pembuatan pupuk selama dua hari bagi 25 orang per kelompok, serta bantuan sarana pendukung seperti terpal dan cairan aktivator EM4,"urainya. 

Selain pelatihan dan bantuan alat, pihaknya  juga memberikan perhatian khusus pada standardisasi mutu produk pupuk melalui fasilitasi uji laboratorium secara berkala.  Hal itu bertujuan untuk memastikan standar mutu pupuk organik yang dihasilkan benar teruji  berkualitas tinggi dan aman bagi tanaman pangan maupun hortikultura.

"Untuk menjaga kualitas, kami memfasilitasi pengujian sampel pupuk dari kelompok-kelompok yang sudah berproduksi. Sampel tersebut kami ambil dan uji di laboratorium untuk mengetahui kandungan unsurnya, sehingga kualitas pupuk teruji tinggi dan aman untuk tanaman,"sebutnya.

Sementara itu,  Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Surana. Melalui anggaran Pokok-pokok Pikiran (Pokir) Dewan dari APBD 2026, Wakil Ketua Komisi B DPRD Sleman tersebut menyerahkan bantuan alat pengolahan limbah ternak untuk tiga kelompok ternak di Kalurahan Wedomartani, Kalurahan Umbulmartani, dan Kalurahan Sindumartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman. 

"Bantuan itu disalurkan agar para peternak memiliki fasilitas yang memadai untuk mengolah limbah kotoran hewan menjadi pupuk organik. Tujuannya agar limbah ternak dapat difermentasikan menggunakan EM4, molase, serta bahan pengurai, alih-alih hanya ditumpuk dan dibakar yang justru memicu polusi serta merusak unsur hara tanah," kata Surana.

Ia menyebut, kalau hanya ditumpuk sampai kering lalu dibakar atau langsung dibawa mentah ke sawah, itu selain mencemari udara karena baunya, juga bisa memunculkan jamur patogen dan gulma yang tidak diinginkan pada tanaman. 

"Dengan fermentasi, rumput liar mati, tanah tidak tercemar, dan kualitas tanaman menjadi jauh lebih subur," katanya.

Tak hanya mesin pencacah dan alat pengolah pupuk organik, Surana juga telah memfasilitasi sarana pendukung berupa kultivayor kepada  kelompok tani binaan yang telah didampinginya selama hampir tujuh tahun terakhir. Dikatakan, alat pengolah tanah tersebut terbukti sangat diandalkan oleh para petani hortikultura setempat, baik petani cabai maupun semangka, untuk mempercepat persiapan lahan pertanian.

"Didukung dengan alokasi anggaran yang efektif, efisien, dan tepat sasaran, program ini tentu akan bermuara pada satu tujuan utama, yakni lingkungan ramah, petani hemat biaya, dan masyarakat Sleman yang semakin sejahtera,"ungkapnya.


Lebih lanjut, Surana menyebut pengolahan limbah kohe menjadi pupuk organik sebagai solusi strategis jangka panjang untuk memastikan sektor peternakan tetap tumbuh produktif tanpa menganggu kenyamanan dan kesehatan lingkungan. Mengingat saat ini, area peternakan di Kabupaten Sleman semakin bersinggungan langsung dengan permukiman penduduk. 

Ke depan, integrasi antara sektor peternakan dan pertanian organik diharapkan mampu menciptakan siklus ekonomi yang saling menguntungkan. Pupuk organik berkualitas tinggi tidak hanya membuat tanaman lebih sehat dan ramah lingkungan, tetapi juga mendongkrak produktivitas hasil panen.

"Melalui pemanfaatan pupuk organik dari olahan kohe ini, kami berharap pendapatan petani meningkat, kesehatan lingkungan dan penduduk terjaga, serta tanah di sekitar kita kembali subur," katanya. (Red)