Ahmad Muzadi & Ilmu Padi
YOGYAKARTA (Penasembada.com) - Di hari yang berbahagia ini, kita mengirimkan doa terbaik untuk Bapak H. Ahmad Muzani yang genap berusia 57 tahun. Sugeng ambal warso, Kang. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan berkah kesehatan dan kekuatan dalam mengemban amanah besar sebagai Ketua MPR RI.
Bagi kita wong cilik, melihat seorang pemimpin itu seperti melihat padi di sawah. Semakin berisi, ia akan semakin merunduk. Dan sifat itulah yang kita lihat dari perjalanan Kang Muzani. Jabatannya kini boleh tinggi di puncak lembaga negara , namun hatinya tetap menjejak di bumi, akarnya tak pernah lupa dari mana ia berasal: dari sebuah madrasah di Tegal, Jawa Tengah.
Perjalanan hidupnya adalah bukti bahwa kerendahan hati adalah kunci. Beliau ditempa di kawah candradimuka organisasi seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) , diasah menjadi guru di sekolah Muhammadiyah , dan bahkan setia menjadi orang kepercayaan Pak Prabowo Subianto jauh sebelum hiruk pikuk politik dimulai.
Kemampuannya untuk diterima di berbagai kalangan, baik di lingkungan pesantren tradisional maupun di kalangan modernis Muhammadiyah, menunjukkan keluwesan dan sifatnya yang tidak membeda-bedakan. Inilah modal utamanya: hati yang terbuka untuk merangkul semua.
Sikap rendah hati ini terbawa hingga ke panggung politik nasional. Saat banyak politisi melihat pesantren sekadar sebagai "bank suara", Kang Muzani justru memandangnya dengan penuh hormat. Baginya, pesantren bukanlah objek, melainkan mitra strategis dalam membangun bangsa. Beliau tak segan berkeliling, sowan dari satu pondok ke pondok lain, dari Gontor yang megah hingga pesantren-pesantren salafiyah lainnya. Kunjungan ini bukan sekadar pencitraan, melainkan wujud nyata penghormatan kepada para kiai dan ulama.
Dalam setiap kesempatan, beliau selalu mengangkat martabat pesantren. Beliau tegaskan bahwa bangsa ini berhutang budi pada pesantren dan meyakini bahwa Pancasila akan selalu aman di tangan para santri dan kiai. Keyakinan ini bukan hanya kata-kata. Lihatlah bagaimana perhatiannya begitu detail. Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, secara khusus ia pastikan harus sampai ke para santri di seluruh pelosok negeri. Baginya, gizi para santri adalah investasi untuk masa depan Indonesia.
Beliau juga tak ingin pesantren hanya bergantung pada bantuan. Melalui dukungan pada program kemandirian ekonomi seperti Zmart dari BAZNAS, ia mendorong agar pesantren bisa berdaya dan berdiri di atas kakinya sendiri. Perhatiannya sampai ke hal-hal mendasar seperti ini, sebuah tanda kepemimpinan yang melayani, bukan ingin dilayani.
Puncak dari kerendahan hatinya tercermin dalam pidato pertamanya sebagai Ketua MPR. Di tengah sorotan lampu dan kemegahan jabatan, pesan utamanya justru ajakan untuk "hidup sederhana". Sebuah pesan yang menyejukkan, yang mengingatkan bahwa kekuasaan sejatinya adalah amanah untuk menyejahterakan rakyat, bukan untuk bermewah-mewahan.
Di bawah kepemimpinannya, MPR diproyeksikan menjadi lembaga yang merangkul dan bekerja sama, mendukung agenda pembangunan bangsa seperti target pertumbuhan ekonomi 8% dan perjuangan keadilan sosial.Semangatnya adalah semangat gotong royong, bukan saling sikut.
Perjalanan Ahmad Muzani mengajarkan kita tentang ilmu padi. Dari gang-gang madrasah di Tegal hingga kursi tertinggi MPR, ia menunjukkan bahwa menjadi besar tidak harus dengan meninggikan diri. Justru dengan merunduk, dengan rendah hati, ia mampu merajut kepercayaan dan mempersatukan berbagai kekuatan untuk membangun Indonesia.
Selamat ulang tahun sekali lagi, Kang Muzani. Teruslah menjadi padi yang merunduk, yang semakin berisi dan menyejukkan bagi negeri ini.
Penulis : Muhammad Zuhaery Praktisi Pendidikan
Posting Komentar