Desa Mintorogo Cermin dari Harmoni Antara manusia, Alam, dan Warisan Leluhur
SLEMAN (Penasembada.com) - Menapaki jejak sejarah dan harapan sebuah Desa Wisata Mintorogo, Kapanewon Prambanan, Sleman, bukan hanya menyimpan keindahan alam dan udara sejuk, tetapi juga memancarkan nilai sejarah dan budaya yang kuat.
Desa ini perlahan berkembang menjadi desa wisata berbasis spiritual dan budaya, berkat inisiatif masyarakat, pemerintah desa, serta dukungan dari para pemuda setempat.
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Amikom Yogyakarta yang sedang menjalankan tugas di Kapanewon Prambanan, Vinsensius David Nugraha dan Filipus Bily Putra Pradana mencoba menggali kisah awal mula dan harapan besar tentang desa ini.
Menurut Prawoto, pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mintorogo, awal penemuan Stupa Buddha berawal titik pengembangan Mintorogo sebagai desa wisata dimulai dari penemuan batu-batu yang tampak tertata rapi.
Dugaan awal menyebutkan bahwa batu tersebut merupakan stupa kuno. Temuan itu kemudian dikonfirmasi melalui kerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan pihak arkeologi. Penelitian resmi dimulai pada 2015, dan akhirnya di tahun 2022 stupa tersebut ditetapkan sebagai Cagar Budaya.
"Proses pengembangan desa wisata Mintorogo sangat dipengaruhi oleh keterlibatan pemuda desa, yang kemudian tergabung dalam Pokdarwis. Kami melibatkan kaum muda untuk menjadi penggerak pengelolaan wisata. Pemerintah desa juga turut mendukung dari segi koordinasi dan penganggaran,”ungkap Prawoto.
Meski masih dalam tahap perintisan, masyarakat Mintorogo bertekad menjadikan desanya sebagai destinasi wisata spiritual dan budaya yang mandiri dan berdaya saing. Wilayah ini menyimpan daya tarik wisata dan warisan budaya, beberapa daya tarik utama Mintorogo meliputi, Stupa Buddha dari batu putih yang berada di dataran tertinggi Prambanan berada pada ketinggian ±425 mdpl, lebih tinggi dari Candi Prambanan.
Terdapat pula, gardu pandang dengan panorama indah Gunung Merapi dan kawasan Klaten, wisata religi dan tempat peribadatan umat Buddha yang sakral dan hening. Desa ini juga memiliki kesenian tradisional seperti sandul, yang dilestarikan oleh sanggar seni "Mintorogo Budoyo". Kesenian ini mengangkat kisah lokal seperti Wahyu Katenraman, yang menggambarkan ketenangan dan kesejukan hidup di Mintorogo.
"Ritual dan Tradisi Khas Mintorogo Tradisi budaya masih dijaga dengan erat, termasuk kenduri panen raya setiap bulan September dengan sajian tumpeng pitu sebagai bentuk syukur kepada Tuhan. Ritual malam Jumat Kliwon, yang sering diadakan bila ada pengunjung dengan permohonan khusus. Ritual dan tradisi ini menjadi pelengkap nuansa spiritual desa serta magnet tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara,"bebernya.
Dalam upaya membangkitkan perekonomian, UMKM dan produk lokal Mintorogo juga aktif mengembangkan potensi ekonomi lokal melalui produk emping garut dan manggleng (olahan khas), erajinan anyaman bambu, hasil pertanian lokal seperti umbi-umbian, terutama gembili yang kini semakin dikenal.
Ia mengungkapkan, banyak wisatawan mengungkapkan kekaguman mereka terhadap suasana desa yang tenang, sejuk, dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Bahkan, wisatawan dari Jerman menyebut Mintorogo sebagai tempat spiritual yang luar biasa. Mintorogo bukan sekadar desa, tetapi cermin dari harmoni antara manusia, alam, dan warisan leluhur. Dengan semangat gotong royong, pelestarian budaya, dan pengelolaan mandiri, desa ini melangkah pelan namun pasti menuju masa depan yang cerah sebagai desa wisata unggulan di Sleman dan Indonesia.
"Kami berharap Mintorogo bisa dikenal luas, bahkan mendunia. Kalau sudah dikenal secara luas, produk kuliner, kerajinan, dan hasil tani kami bisa dipasarkan lebih jauh. Ini harapan satu-satunya bagi warga sini,” tuturnya. (Oke)
Posting Komentar