HPMKT-YK Gelar Diskusi “Tanah Ulayat: Belajar dari Tanah Kalimantan”
YOGYAKARTA (Penasembada.com) - Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Kalimantan Tengah Yogyakarta (HPMKT-YK) menyelenggarakan sebuah diskusi publik bertajuk “Tanah Ulayat: Belajar dari Tanah Kalimantan”.
Menghadirkan Eko Cahyono dari Sajogyo Institute sebagai narasumber utama. Acara ini berlangsung di Asrama Mahasiswa Kalimantan Tengah Yogyakarta dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan reflektif bertema besar “Kalimantan Milik Siapa? Antara Kelimpahan, Anugerah, dan Bencana Krisis Sosial-Ekologi.”
Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa, aktivis lingkungan, dan pegiat isu agraria dari berbagai daerah di Yogyakarta. Dalam paparannya, Eko Cahyono menyoroti fenomena yang disebut sebagai “kutukan sumber daya alam”, di mana daerah yang kaya akan sumber daya alam justru mengalami krisis sosial-ekologis, kemiskinan struktural, dan marjinalisasi masyarakat adat.
"Kalimantan menjadi cermin nyata dari persoalan kolonialisme agraria, korupsi struktural, serta dominasi oligarki sumber daya alam yang menciptakan ketimpangan kepemilikan tanah di Indonesia," dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/10/2025).
Menurut Eko, model pembangunan di Kalimantan masih berorientasi pada eksploitasi sumber daya tanpa memperhatikan keadilan sosial dan ekologis. Ia menyebut. “Kekayaan alam yang seharusnya menjadi berkah justru berubah menjadi kutukan, karena masyarakat adat dan lokal kehilangan hak atas tanah ulayat mereka,"cetusnya.
Ketua HPMKT-YK Nathanael Ivan Pratama menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa Kalimantan Tengah terhadap situasi sosial-ekologis di tanah kelahiran mereka.
“Kami ingin belajar dan berdialog, agar generasi muda Kalimantan mampu memahami persoalan agraria dari akar hingga kebijakan,” ujarnya.
Diskusi juga dihadiri oleh Mina Nila anak kandung dari Tjilik Riwut Pahlawan Nasional Indonesia dan Gubernur Kalimantan Tengah pertama (1958-1967). Mina Nila juga selaku Pembina HPMKT-YK sangat antusias dalam mengikuti kegiatan diskusi ini dan selalu mendukung gerakan mahasiswa Kalimantan Tengah yang berkuliah di Yogyakarta dalam mengagas ide untuk kemajuan Kalimantan Tengah.
Diskusi ini tidak hanya membedah persoalan kerusakan lingkungan dan ketimpangan agraria, tetapi juga menyoroti pentingnya pengakuan hak masyarakat adat atas tanah ulayat sebagai fondasi keadilan sosial dan keberlanjutan ekologi. Narasumber menutup paparannya dengan ajakan agar mahasiswa terus berperan sebagai penggerak perubahan sosial melalui riset, advokasi, dan pendidikan kritis.
Melalui kegiatan ini, HPMKT-YK menegaskan komitmennya untuk menjadi wadah pembelajaran dan pergerakan mahasiswa Kalimantan yang berpihak pada keadilan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan. (Red)
Posting Komentar