Romantisme Ibu Berdaya Dalam Angka dan Realita
PAGI di Sleman selalu dimulai dengan realita yang sama. Seorang ibu menyiapkan sarapan, memastikan anak berangkat sekolah, lalui bergegas ke tempat kerja. Sebagian lainnya, membuka warung kecil di depan rumah, membuka telepon genggamnya untuk berjualan online, atau menghabiskan hari mengurus rumah tangga. Realita ini mungkin terdengar biasa. Namun jika dikumpulkan, realita ini diam-diam menggerakkan perekonomian daerah.
Di Kabupaten Sleman, perempuan bukan kelompok kecil. Tahun 2024, data menunjukkan jumlah perempuan di Kabupaten Sleman mencapai 568.135 jiwa atau 50,5 % dari total penduduk 1.125.571. Jika lebih dari setengah penduduk ini tidak diberi ruang untuk tumbuh dan berdaya, sulit membayangkan Sleman bahkan Indonesia dapat melangkah jauh menuju Indonesia Emas 2045.
Dari Survei Angkatan Kerja (Sakernas) Agustus yang dilaksanakan oleh BPS Tahun 2024 dibalik aktivitas perempuan dengan usia 15 tahun keatas terdapat sejumlah 293.746 jiwa setara 61,82 % dari jumlah total perempuan di Sleman berstatus bekerja baik di berbagai sektor : pendidikan, kesehatan, perdagangan, jasa hingga industri kreatif. Perempuan bukan hanya membantu ekonomi keluarga, tetapi juga menyumbang denyut ekonomi daerah.
Disisi lain juga terdapat 10.321 jiwa perempuan berstatus pengangguran terbuka. Ada pula perempuan yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan sebanyak 46.781 jiwa masih bersekolah yang menjadi harapan masa depan, calon tenaga professional serta menentukan wajah Sleman dan Indonesia beberapa dekade ke depan. Selain itu terdapat 109.824 jiwa setara 23,11 % dari total jumlah perempuan mengurus rumah tangga romantisme seorang Ibu yang berperan terhadap keseimbangan keluarga. Ibu juga sering memikul peran ganda : produktif di luar rumah sekaligus menopang kehidupan di dalam rumah.
Angka lain terhubung realita dengan apa yang disebut Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Sleman menempati tertinggi se Provinsi DI Yogyakarta pada angka 81,49 yang menunjukkan tingkat pemberdayaan relatif tinggi dalam kehidupan ekonomi dan politik. Pengukuran IDG untuk Kabupaten Sleman berupa komponen dari keterlibatan perempuan di parlemen sebesar 26%, perempuan sebagai tenaga professional sebesar 51,74% , dan sumbangan pendapatan perempuan sebesar 39,62. Sebagai catatan untuk Kabupaten Sleman keterwakilan perempuan di parlemen Kabupaten Sleman masih berada di bawah ketentuan minimal 30 persen.
Hari Ibu merupakan romantisme kita bahwa perempuan tidak hanya hadir dalam realita keluarga, tetapi juga dalam angka-angka pembangunan. Ketika perempuan diberi ruang untuk berdaya dan berkarya, masa depan bukan hanya menjadi lebih cerah, tetapi juga lebih adil.
Dan mungkin, Indonesia Emas 2045 akan lahir dari dapur, ruang kelas, kantor, pasar, dan parlemen tempat perempuan selama ini bekerja, sering tanpa sorotan, namun dengan dampak yang nyata. Dari kerja bersama setara dan saling menguatkan sehingga Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045.
Penulis :Istiqomah TR, S.E. (Statistisi Ahli Muda, BPS Kabupaten Sleman).
Saskila Aurora Dewinda (Agen Statistik dan Mahasiswa FEB UPN Veteran Yogyakarta).

Posting Komentar