Karst Dihancurkan, Pembangunan Pariwisata Ancam Ruang Hidup Gunung Sewu
YOGYA (Penasembada.com) - Kawasan karst Gunung Sewu tengah menghadapi ancaman serius akibat ekspansi pembangunan pariwisata yang kian masif dan eksploitatif.
Alih-alih dilindungi sebagai ekosistem strategis, kawasan karst yang selama ini menjadi penyangga air dan ruang hidup masyarakat justru dibelah, diratakan, dan dikomodifikasi atas nama pertumbuhan ekonomi.
Sejumlah proyek pembangunan pariwisata, seperti proyek On The Rock yang secara fisik membelah batuan karst, serta pembangunan resort dan beach club di kawasan pesisir Gunungkidul, menjadi contoh nyata praktik pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan. Proyek-proyek tersebut dinilai merusak Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunung Sewu, bertentangan dengan prinsip perlindungan kawasan karst, serta berpotensi melanggar ketentuan tata ruang dan peraturan lingkungan hidup.
Kerusakan karst tidak hanya berdampak pada perubahan bentang alam, tetapi juga mengancam fungsi vital karst sebagai penyimpan dan pengatur air. Sistem hidrologi karst Gunung Sewu yang kompleks dan rapuh berperan penting dalam menjamin ketersediaan air bagi masyarakat Gunungkidul dan sekitarnya. Ketika struktur karst dirusak, aliran air bawah tanah berpotensi terganggu, memperbesar risiko krisis air bersih di musim kemarau serta meningkatkan kerentanan terhadap bencana ekologis seperti banjir dan tanah longsor.
Ancaman ini semakin nyata di tengah perubahan iklim dan intensifikasi pembangunan yang terus berlangsung. Situasi tersebut mencerminkan relasi kuasa yang timpang dalam pengelolaan ruang dan sumber daya alam. Kepentingan investasi dan pariwisata kerap ditempatkan di atas hak masyarakat atas lingkungan hidup yang aman, sehat, dan berkelanjutan. Minimnya partisipasi publik dalam proses perencanaan dan perizinan memperparah kondisi ini, sehingga konflik agraria dan ketegangan sosial menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Merespons kondisi tersebut, Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) bersama Social Research Center (SOREC) dan NGO Ruang menyelenggarakan Seri Diskusi bertajuk “Merawat Karst Gunung Sewu: Konflik Agraria, Air, dan Kuasa”, bertempat di Ruang Sartono PSPK pada 14 Januari 2026, kegiatan ini juga disiarkan secara daring melalui Zoom. Diskusi ini menjadi ruang refleksi kritis untuk membedah dinamika kerusakan karst, konflik agraria, serta arah kebijakan pengelolaan Gunung Sewu ke depan.
Dalam diskusi tersebut, Pitra Hutomo (NGO Ruang) menegaskan bahwa Gunungkidul bukan wilayah yang layak diperlakukan sebagai objek eksploitasi. “Gunungkidul memiliki sejarah panjang sebagai kawasan karst dengan keanekaragaman nilai ekologis dan kultural yang luhur.
"Wilayah ini seharusnya dirawat, bukan dieksploitasi,” ujar Pitra dalam keterangan tertulis, Senin (19/1/2026).
Sementara itu, Himawan Kurniadi (NGO Ruang) memaparkan kondisi mutakhir karst Gunung Sewu yang semakin rentan akibat pembangunan pariwisata yang tidak ramah lingkungan.
“Saat ini terjadi pembangunan yang membelah bentang karst, seperti proyek On The Rock. Selain tidak terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah, pembangunan ini juga menyimpan risiko kebencanaan yang serius,” jelas Himawan.
Perspektif kritis turut disampaikan oleh A. B. Widyanta, akademisi yang mengkaji konflik agraria dan relasi kuasa. Ia menyoroti bagaimana pembangunan pariwisata modern kerap mengorbankan nilai-nilai lokal. “Bangunan pariwisata mungkin tampak megah, tetapi ia menghancurkan nilai luhur Gunungkidul. Watu dan bentang alam yang dahulu dimaknai sebagai ruang magis kini berubah menjadi tragis,”ungkapnya.
Melalui diskusi ini, para penyelenggara dan peserta menegaskan bahwa karst Gunung Sewu bukan sekadar komoditas wisata, melainkan ekosistem vital yang menopang kehidupan masyarakat pesisir dan pedesaan. Pengelolaan kawasan karst harus dilakukan secara adil, berkelanjutan, berbasis pengetahuan ilmiah, serta mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan ekonomi jangka pendek. Diskusi ini diharapkan menjadi pijakan bagi penguatan advokasi publik, pengembangan riset kritis, serta kolaborasi lintas sektor untuk menghentikan laju kerusakan dan memastikan keberlanjutan Kawasan Karst Gunung Sewu. (Red)

Posting Komentar