Satunama Yogyakarta Jadi Tuan Rumah Alliance Meeting 2026, Hadirkan 18 Negara

Daftar Isi


SLEMAN (Penasembada.com) - Change the Game Academy (CtGA) menegaskan pentingnya transformasi peran Non-Governmental Organization (NGO) dalam membangun hubungan yang lebih strategis antara perusahaan dan masyarakat.

Hal ini mengemuka dalam diskusi “CtGA Alliance Meeting 2026” yang mempertemukan berbagai organisasi untuk membahas praktik corporate fundraising di sejumlah negara berkembang.

Dalam forum tersebut, Direktur Yayasan Satunama Yogyakarta, I Gede Edy Purwaka, menilai bahwa hubungan NGO dan perusahaan selama ini masih cenderung bersifat administratif dan finansial. Perusahaan kerap memandang kolaborasi dengan NGO sebagai bentuk legitimasi sosial atau langkah cepat untuk memitigasi risiko operasional di lapangan.

“Padahal, peran NGO seharusnya jauh melampaui sekadar mitra penggalangan dana. NGO memiliki kapasitas untuk menyerap kebutuhan riil masyarakat, mengagregasikannya, lalu menyampaikannya secara efektif kepada perusahaan,” ujar Edy di Hyatt Regency dalam keterangan tertulis, Minggu (15/2/2026).

Menurut Edy, dengan fungsi tersebut, NGO dapat memastikan bahwa program tanggung jawab sosial perusahaan benar-benar tepat sasaran dan berdampak jangka panjang.

"Pendekatan ini dinilai penting agar kontribusi perusahaan tidak menciptakan ketergantungan baru, melainkan mendorong kemandirian dan keberlanjutan masyarakat,"tambahnya.

Perwakilan delegasi CtGA Indonesia, Ariwan Perdana, menambahkan bahwa corporate fundraising membutuhkan pemahaman mendalam dan tidak bisa diseragamkan di setiap negara. Faktor regulasi, budaya, hingga dinamika sosial menjadi variabel yang menentukan keberhasilan strategi penggalangan dana.

“Corporate fundraising bukan sekadar mencari dukungan finansial. Ini adalah proses pembelajaran berkelanjutan yang harus selaras dengan nilai organisasi, visi-misi yang jelas, serta kesesuaian dengan budaya korporasi,” jelasnya.

"Melalui diskusi dan webinar rutin, CtGA menjadi ruang berbagi pengalaman antarorganisasi dari berbagai negara. Forum ini memungkinkan peserta mengadaptasi praktik baik global sesuai konteks nasional masing-masing,"kata dia.

Selain itu, pada forum Alliance Meeting yang dituan rumahi oleh Satunama, menjadi wadah untuk para NGO kembali merefleksikan dan mendiskusikan diskursus-diskursus baru seperti gender mainstreaming sebagai upaya memperkuat peran NGO di masyarakat. Kegiatan tersebut berlangsung dari 9-13 Februari 2026 dan dihadiri setidaknya 18 negara, seperti Brazil, Tanzania, Nepal, Kamboja, Zimbabwe, dan lainnya.

Secara global, CtGA merupakan inisiatif yang berfokus memperkuat kapasitas organisasi masyarakat sipil di negara berkembang agar lebih mandiri melalui penggalangan dana lokal dan mobilisasi dukungan publik. Di Indonesia, program ini dijalankan sejak 2022 bersama

Yayasan Satunama Yogyakarta melalui pelatihan tatap muka, kelas daring, dan platform pembelajaran mandiri. Sebagai bagian dari aliansi internasional yang beroperasi di lebih dari 18 negara, CtGA terus mendorong perubahan paradigma pendanaan organisasi sosial, dari ketergantungan pada donor asing menuju kemandirian berbasis dukungan lokal dan kemitraan strategis yang berkelanjutan,"sambungnya. (Red)


Posting Komentar