Momen Ramadan, Leting 35-2 Brimob Watukosek SWM DIY Berbagi 600 Paket Takjil di Depan Mapolda DIY
SLEMAN (Penasembada.com) - Dalam rangka HUT ke-26 angkatan 35 Brimob gelombang 2 Watukosek Satya Wara Madya (SWM) DIY, digelar berbagi takjil Ramadan 1447 H di depan Mapolda DIY, Minggu (8/3/2026) sore. Sebanyak 600 paket takjii dibagikan kepada masyarakat.
SWM merupakan anggota Brimob leting 35-2, pendidikan tahun 1999-2000 di Pusdik Brimob Watukosek, Jawa Timur. Seluruhnya sebanyak 6000 siswa dan tersebar di seluruh Indonesia.
Wakil Ketua 35-2 Brimob Watukosek SWM DIY, Aipda Lamijan mengatakan kegiatan berbagi takjil ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kepada masyarakat luas pada momen bulan Ramadan.
"Kegiatan ini digagas oleh rekan-rekan leting Brimob 35-2, pendidikan kita sama-sama pada tahun 2020, pada sore ini kita ada momen bagi takjil kepada masyarakat, yang dibagikan sekitar 600 paket,"ujar Aipda Lamijan.
Dipilihnya lokasi, ungkapnya, merupakan bentuk kebanggaan Brimob SWM DIY sebagai bagian dari Polda DIY. Sedangkan dana kegiatan dihimpun dari seluruh anggota.
"Dana kegiatan berasal dari sodakoh anggota, jumlah leting kita sekitar 130 anggota, semuanya berpartisipasi,"jelasnya.
Ia berharap dengan adanya kegiatan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar yang kebetulan sedang melintas di depan Mako Polda, dan mampu memupuk tali persaudaraan yang kuat dan komapak di mana pun bertugas.
"Semoga di bulan suci ini kita selalu diberi keberkahan, kedinasan kita selalu diberikan kelancaran dan dilindungi oleh Allah YME, momen ini menjadi kesempatan untuk berbuat baik,"sebutnya.
SWM DIY berdiri pada tanggal 15 Juli 2019 di RM. Kopi Gamol Jl. Wates Km. 8 Ambarketawang, Gamping Sleman. Satya Wara Madya, secara harfiah berasal dari bahasa Sanskerta yang dimaknai sebagai kebenaran/kesetiaan (Satya) yang utama/terbaik (Wara) di tingkat menengah/tengah (Madya)". Ini menggambarkan tingkat komitmen, kejujuran, atau kualitas tertinggi yang diterapkan pada posisi tengah atau dalam konteks keseimbangan dalam mengemban tugas Negara.
"Istilah ini sering dikaitkan dengan prinsip luhur, seperti dalam konteks kepemimpinan atau nilai-nilai pengabdian, yang menekankan pentingnya kejujuran tertinggi (satya) dan kualitas unggul (wara) yang diwujudkan dalam keseimbangan (madya), tidak berlebih-lebihan namun tetap optimal," tuturnya. (*)

Posting Komentar