Titik Suharto Tanam Kelapa Pandan Wangi di Sleman, Harapan Baru Ekonomi Desa

Daftar Isi

PAGI
di Dusun Klampengan, Padukuhan Jlatren, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Sleman, Rabu (4/3/2026) terasa berbeda. Di tengah hamparan lahan yang disiapkan warga, sebuah bibit kelapa ditanam dengan harapan besar: masa depan ekonomi desa.

Bibit itu ditanam langsung oleh Siti Hediati Suharto, Ketua Komisi IV DPR RI yang akrab disapa Titiek Suharto. Kehadirannya bukan sekadar seremoni, tetapi membawa pesan tentang pentingnya kemandirian pangan dan kesejahteraan petani.

Kegiatan penanaman diawali dengan pertunjukan tari tradisional “Sekar Pudyastuti” dari Sanggar Cikrak Kino asuhan Agus Sukino. Tarian tersebut menjadi doa simbolis bagi keselamatan semesta dan keberkahan bagi tanah yang akan ditanami.

Acara itu juga dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya, jajaran Forkopimda DIY dan Sleman, anggota DPRD DIY dan Sleman, Panewu Berbah Djaka Sumarsono, Gapoktan, serta para petani setempat.

Bagi Titiek Suharto, menanam kelapa pandan wangi bukan sekadar kegiatan simbolik. Bibit tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui fasilitasi Komisi IV DPR RI.

Ia menjelaskan, kelapa genjah pandan wangi memiliki keunggulan karena dapat mulai berbuah pada usia sekitar tiga tahun, batangnya tidak terlalu tinggi, serta relatif tahan terhadap penyakit.

“Harapannya petani bisa lebih cepat merasakan manfaatnya, sekaligus memudahkan dalam perawatan,” ujarnya.

Menurut Titiek, potensi kelapa pandan wangi tidak hanya pada buahnya. Berbagai produk turunan seperti minyak kelapa, gula kelapa, hingga produk olahan lainnya bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi desa.

Ia berharap wilayah Sleman kelak dapat berkembang menjadi sentra penghasil kelapa dengan berbagai produk turunannya.

“Kalau ini berkembang, bisa menjadi kekuatan ekonomi desa sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat,” katanya.

Peran organisasi petani juga dianggap penting dalam menggerakkan sektor ini. Kehadiran komunitas Petani Merdeka di DIY diharapkan mampu membangkitkan semangat petani untuk lebih maju, berinovasi, dan tidak berjalan sendiri.

Sementara itu, Gapoktan dinilai menjadi penggerak yang menentukan pola tanam, membantu penyediaan sarana produksi, hingga merencanakan pemasaran.

“Jika Petani Merdeka adalah semangatnya, dan Gapoktan adalah kekuatan organisasinya, maka ketika keduanya bekerja sama akan menjadi kekuatan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Bupati Sleman Harda Kiswaya menyambut baik bantuan bibit kelapa pandan wangi tersebut. Ia menilai gerakan penanaman ini dapat menjadi langkah awal bagi munculnya kegiatan ekonomi baru di pedesaan.

Menurutnya, kelapa pandan wangi berpotensi besar karena produk turunannya dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Harapannya ini bisa mendorong ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Harda.

Lebih jauh, ia melihat peluang lain yang bisa tumbuh dari gerakan ini. Jika pengolahan produk kelapa berkembang, bukan hanya ekonomi yang bergerak, tetapi juga sektor pariwisata desa dan kelestarian lingkungan.

Di Dusun Klampengan pagi itu, satu bibit kelapa memang baru saja ditanam. Namun bagi warga, yang tumbuh bukan hanya pohon kelapa, melainkan juga harapan baru bagi masa depan desa.

Posting Komentar