Pembangunan Jalan Prambanan-Gayamharjo Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal

Daftar Isi

 


SLEMAN, Pena - Pembangunan Jalan Prambanan–Gayamharjo sepanjang 9,08 km terus dikebut. Sesuai perencanaan, proyek yang didanai APBN tersebut ditargetkan rampung pada Agustus 2025.

Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Tisara Sita mengatakan, fasilitas jalan ini menjadi tumpuan baru dalam memperkuat ketahanan pangan, mendorong sektor pariwisata, dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Ruas ini berperan penting dalam mempercepat konektivitas antara Sleman dan Gunungkidul. Dengan jalan baru ini, waktu tempuh bisa berkurang sekitar 15 menit dan biaya logistik bisa ditekan,”kata Sita didampingi Asisten Pelaksanaan, Dian, Jumat (2/5/2025).

Progres fisik hingga 2 Mei 2025, pada Segmen 2.1 yang dikerjakan dengan skema Single Year Contract (SYC) telah rampung 100 persen. Untuk Segmen 1 dan 2.2, yang masuk dalam skema Multi Years Contract (MYC), masing-masing mencatat progres 30,859 persen dan 18,268 persen.

"Kita menargetkan seluruh pekerjaan tuntas pada Agustus 2025," jelasnya.

Menurutnya, proyek ini menjadi bagian dari jaringan jalan strategis Prambanan–Gayamharjo–Tawang–Ngalang–Gading, dengan total panjang 27,58 km. Pembangunan jalan ini merupakan bagian dari pelaksanaan program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD) yang diusulkan oleh Gubernur DIY.

“Kami berharap proyek ini bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal, terutama dari sektor pariwisata dan pertanian,”tuturnya.

Keberadaan jalan ini membuka akses langsung ke sejumlah Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), seperti kompleks Candi Prambanan dan Ratu Boko, kawasan Prambanan–Kalasan, hingga Geopark Gunung Sewu yang telah diakui UNESCO. Integrasi dengan rencana Exit Tol Bokoharjo, yakni akses jalan Nasional hingga YORR di Simpang Susun Purwomartani Tol Solo-Jogja.

"Tentunya akan mempercepat konektivitas dari jalur tol ke wilayah selatan DIY," ungkapnya.

Sejumlah tantangan ditemui dan sempat menghambat laju pekerjaan, mulai dari volume galian yang tinggi memerlukan lokasi buangan material yang memadai, selain itu cuaca ekstrem yang melanda wilayah DIY dari November 2024 hingga Februari 2025. Kendala lain, yakni dengan ditemukan artefak berupa arca yang membutuhkan penanganan khusus dan melibatkan instansi terkait.

"Namun, transformasi kawasan mulai tampak. Daerah perbukitan yang sebelumnya sulit dijangkau kini mulai hidup. Warga sangat antusias, bahkan di ruas yang sudah terbangun sempat diadakan kegiatan car free day yang mendorong aktivitas ekonomi lokal,”sambungnya. (Oke)

 

Posting Komentar