Upaya Jaring Bibit Atlet Bridge Terbaik, Begini Langkah yang Dilakukan GABSI DIY
![]() |
| Kejuaraan Daerah (Kejurda) Bridge DIY 2026 yang berlangsung di Komplek Perkantoran Pemkab Bantul II Manding, Sabtu (25/7/2026). |
BANTUL (Penasembada.com) - Pengurus Daerah Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Pengda GABSI) DIY bakal memperbanyak gelaran kejuaraan di kabupaten/kota sebagai strategi menjaring bibit atlet terbaik.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pengda GABSI DIY, Arianto Wibowo, usai membuka Kejuaraan Daerah (Kejurda) DIY 2026 yang berlangsung di Komplek Perkantoran Pemkab Bantul II Manding, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Arianto, Kejurda 2026 ini menjadi ajang uji coba yang valid untuk mengukur mental dan strategi atlet sebelum melangkah ke kejurnas maupun turnamen resmi di bawah naungan KONI dan PB GABSI. Upaya memasyarakatkan cabang olahraga Bridge juga akan terus dimasifkan dengan menyasar dunia pendidikan.
"Ajang yang berlangsung hari ini merupakan wadah pembinaan, silaturahmi, sekaligus mengukur kemampuan atlet dalam menghadapi kompetisi di tingkat yang lebih tinggi,"ujar Arianto.
Mengusung semangat "Memasyarakatkan Bridge", Kejurda DIY 2026 diharapkan mampu memperluas pengenalan olahraga bridge kepada masyarakat, khususnya generasi muda dan kalangan pelajar, sehingga semakin banyak bibit atlet yang lahir dan siap mengharumkan nama DIY di tingkat nasional maupun internasional.
Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap regenerasi atlet usia dini, GABSI DIY menggratiskan seluruh biaya pendaftaran untuk kategori kelompok umur.
Ke depan, menyusul tidak diselenggarakannya Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) di 2027, GABSI DIY akan fokus memperbanyak kompetisi lokal dan memaksimalkan fungsi sertifikat kejuaraan di daerah agar tetap bisa digunakan para pelajar untuk menambah nilai jalur prestasi.
"Program kerja ini merupakan salah satu upaya mengangkat potensi atlet bridge di Yogyakarta yang sangat besar. Namun, cabor ini masih menghadapi tantangan kemasyarakatan serta pengembangan di tingkat nasional yang belum mendapat dukungan optimal," jelasnya.
Dalam agenda kerja yang tengah disusun, GABSI DIY terus menjalin koordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) untuk bisa mensosialisasikan Bridge ke sekolah-sekolah, dengan harapan nantinya cabor ini bisa menjadi salah satu ekstrakurikuler bagi siswa.
Pihaknya mengakui langkah regenerasi saat ini harus segera dilakukan mengingat dalam beberapa tahun terakhir belum banyak lahir atlet baru.
"Apa yang sudah dilakukan Gunungkidul dan Sleman dalam meregenerasi atletnya perlu dicontoh daerah lainnya, sehingga ke depan kita bisa mendapatkan bibit baru yang siap bertanding. Kita juga mempromosikan cabor Bridge ini melalui unggahan-unggahan di media sosial," imbuhnya.
Berdasarkan data peserta Kejurda hari pertama, Gunungkidul mengirimkan pasangan atlet terbanyak dengan rincian 5 pasang Mini Bridge, 6 pasang KU-13, 6 pasang KU-16 dan 5 pasang KU-19. Sleman di posisi kedua dengan 6 pasang Mini Bridge, 2 pasang KU-13, 3 pasang KU-16 dan 1 pasang KU-19.
Kota Yogyakarta mengirim 1 pasang Mini Bridge, 2 pasang KU-16 dan 6 pasang KU-19. Bantul hanya mengirimkan 1 pasang KU-16 dan 2 pasang KU-19, demikian juga Kulon Progo dengan 2 pasang KU-13 dan 4 pasang KU-19.
Ketua Pengcab GABSI Gunungkidul, Trini Eko Dewi, mengatakan regenerasi pemain Bridge di Bumi Handayani terbilang sukses karena pengurus berinisiatif mengundang guru-guru olahraga untuk mengikuti pelatihan khusus agar mengenal skema permainan mini bridge.
"Melalui upaya ini kami ingin mengenalkan Bridge dan menghilangkan stigma negatif bahwa ini bukan permainan judi. Hasilnya kami berhasil menjaring ratusan bibit muda yang rutin berlatih setiap Sabtu," katanya.
Kesuksesan itu kemudian diikuti dengan dimasukkannya Cabor Bridge sebagai ekstrakurikuler di SDN Wonosari, SD Kanisius, serta SMP AL Mujahidin. Gerakan tersebut juga sukses melahirkan tiga klub Bridge baru di Gunungkidul.
Sebagai pemenang di kategori Mini Bridge juara pertama diraih pasangan Davit-Elfri, tempat kedua diraih pasangan Azwan-Anindya, tempat ketiga Ansel-Bintang, dan tempat keempat Arman-Erlangga.
Kategori U-13, pasangan Alisha-Ello menduduki peringkat pertama, pasangan Rakha-Alfath di tempat kedua, dan pasangan Kevin-Kenzie di tempat ketiga.
Kategori U-16, pasangan Nayla-Cinta di peringkat pertama, pasangan Arsakha-Naresh di posisi kedua, dan tempat ketiga diraih Nadhif-Hanna.
Kejurda yang digelar selama dua hari, Sabtu (25/7) dan Minggu (26/7) ini diikuti ratusan atlet. Di hari pertama, sebanyak 100 atlet atau 50 pasang bertanding di kategori Mini Bridge, kelompok Umur 13 tahun (U-13), U-16 dan U-19. Sementara pada Minggu (26/7), baru digelar kategori untuk peserta umum. (Red)
